Berita Dunia Islami Masa Kini Update Selalu

loading...
Saturday, 25 July 2015

Hukum Bermazhab Dalam Islam

Hukum Bermazhab Dalam Islam | Sebelum kita menghukumi apakah mesti kita bermazhab atau tidak, alangkah lebih baik kita mesti mengetahui dahulu apakah yang dimaksud mazhab? berikut penjelasan sedikit mengenai hal itu.

Mazhab
Mazhab merupakan isem makan atau ism zaman yang datang dari kata :

ذهب – يذهب – ذهبا/ذهابا

yang bermakna pergi atau jalan, jadi dengan cara bhs makna mazhab yaitu tempat jalan/jalan atau saat berpergian. Pengertian mazhab dalam bingkai syari`at yaitu beberapa kumpulan pemikiran Imam Mujtahid di bagian hukum-hukum syari`at yang digali dengan memakai dalil-dalil dengan cara detail, serta kaedah-kaedah ushul. Jadi Mazhab yang kita maksudnya di sini yaitu mazhab fiqh. Sekarang ini mari kita gali dulu untuk mengetahui empat Mazhab dalam dunia islam berikut ini :

Hukum Bermazhab Dalam Islam

Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi dibentuk oleh seorang ulama besar kufah yang bernama lengkap, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zuwatha al-Kufii. Beliau lahir pada th. 80 H serta meninggal dunia pada th. 150 H. beliau merupakan termasuk juga dalam atba’ al-tabi’in, serta ada ulama yang menyampaikan bahwa beliau termasuk dalam Tabi’in, yang hidup dalam dua daulah yakni daulah umayyah serta daulah ‘abbasiyyah, hingga beliau pernah berjumpa dengan Anas bin Malik serta meriwatkan hadits darinya. (1) Saat ini mazhab Hanafi adalah mazhab di Mesir, Turki, Syiria serta Libanon. Serta mazhab ini diyakini sebagian besar masyarakat Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India serta Tiongkok.

Mazhab Maliki
Mazhab ini didirikan oleh seorang ulama besar madinah yang lahir pada th. 93 H/73 M, dari keluarga Arab terhormat, bernama lengkap Abu ‘Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir bin amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Ashbahi. Orangtua serta leluhurnya di kenal juga sebagai ulama hadits Madinah, kerena ini membuat imam Malik mulai sejak kecil menyukai pengetahuan hadits serta pengetahuan yang lain. Awal mula beliau menimba pengetahuan hadits pada bapak serta paman-pamannya. Lalu berguru pada ulama-ulama populer diantaranya, ‘Abd ar-Rahman bin Hurmuz serta Nafi’ Maula Ibn ‘Umar. Serta guru beliau di bagian fiqh adalah, Rabi’ah bin ‘Abd Ar-Rahman, serta imam Ja’far ash-Shadiq2.

Imam Malik sudah menguasai banyak pengetahuan hingga banyak ulama yang menimba pengetahuan padanya, termasuk juga salah satunya imam Syafi’i penegak pertama mazhab Syafi’i, Bahkan juga menurut satu kisah, murid populer imam Malik mencapai 1. 300 orang. Beberapa daerah yang Berpedoman Mazhab Maliki. sekarang ini ada di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, serta Kuwait.

Mazhab Syafi’i
Mazhab ini didirikan oleh seorang ulama yang lahir pada th. 150 H, di Gazza sisi selatan dari Palestina. Bernama lengkap imam Abu ‘Abd al-llah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abu Yazid bin Hasyim bin ‘Abd al-Muthallib al-Quraiyi al-Hasyimi, yang berjumpa dengan Rasulullah pada kakek beliau yang kesembilan. Sedang ibunya bernama Fathimah binti ‘Abdillah bin Hasan bin Husain bin ‘Ali Ra yang merupakan shahabat serta menantu Rasulullah SAW.

Sejak mulai masih umur Sembilan th., beliau telah hafal semua al-Qur’an, lalu dalam umur sepuluh th., beliau telah hafal kitab al-muwattha’ imam Malik yang berisi lima ribu hadits-hadits shahih. Banyaknya pengetahuan yang beliau punyai lantaran ketekunannya dalam mencari pengetahuan, nyaris tiap-tiap pusat pengetahuan berliau ziarahi seperti Mekkah, Madinah, Iraq, Kufah serta Mesir, di sana beliau berjumpa dengan ulama-ulama besar, seperti imam Malik, di mana imam Syafi’i senantiasa berbarengan beliau selama setahun. Serta Abu Yusuf, ashhab dari Abu Hanifah.

Pada th. 179 H, beliau di beri izin oleh imam Malik untuk berfatwa sendiri, tetapi beliau terus bertaqlid pada guru-gurunya, hingga pada th. 198 H, setelah umur beliau genap 48 th., mulai berfatwa sendiri dengan lisan ataupun dengan tulisan, pertama memberi fatwa di ‘Iraq yang diishtilahkan dengan al-Qaulul Qadim, lalu beralih ke Mesir serta fatwa beliau selama di sini diishtilahkan dengan al-Qaulul Jadid. Di kota inilah beliau menghadap Allah Swt setelah shalat maghrib malam Jum’at, akhir bln. Rajab pada th. 204 H, bertepatan dengan 28 Juni 819 M. Mazhab Syafi’i hingga saat ini diyakini oleh umat Islam di Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia serta Yaman.

Mazhab Hanbali
Mazhab ini didirikan oleh imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asada az-Zuhili asy-Syaibani, beliau lahir di pusat pengembangan islam Baghdad pada th. 164 H serta dikota ini juga banyak menggunakan waktu hidupnya untuk mengabdi pada pendidikan islam hingga meninggal dunia pada bln. Rabi’ul Awal th. 241 H, seperti ulama yang lain, beliau juga pindah kepusat-pusat ilmu dan pengetahuan yang lain seperti, kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, serta Jazirah.

Beliau merupakan seorang ulama hadits, serta fiqh yang banyak menghafal hadits dari guru-gurunya diantaranya Imam Syafi’i serta Hasyim bin Basyir bin Abi Khazim al-Bukhari hingga beliau membuat satu kitab yang berisi empat puluh ribu hadits. Banyak para ulama yang memberi kesaksian atas ketinggian ilmunya, diantaranya Ibrahim al-Harbi berkata “aku saksikan Ahmad bin Hanbal seakan-akan beliau sudah menghimpun pengetahuan ulama terdahulu serta selanjutnya”(3). saat ini Mazhab Hanbali jadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia serta memiliki penganut paling besar di semua Jazirah Arab, Palestina, Siria serta Irak.

Selain mazhab yang empat masih tetap ada mazhab lain, seperti Mazhab Al-Ibadhiyah yang didirikan oleh Jabir bin Zaid (meninggal dunia 93 H). Mazhab Azh-Zhahiriyah yang didirikan oleh Daud bin Ali Azh-Zhahiri (meninggal dunia 270 H), Mazhab Laist yang didirikan oleh imam al-Laits bin sa’ad bin’Abdur rahman al-Fahmi (94 H-175 H), Mazhab Tsaury didirikan oleh Imam Sufyan ibn Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’I, (97 H/715 M), Mazhab Auza`i didirikan oleh Abdurrahman Al Auza'i (meninggal dunia 113 H), Mazhab Ishaq ibn Rahawiyah, Mazhab Sufyan bin Uyainah, Mazhab Imam Hasan Basri.

Tetapi selain mazhab yang empat seluruhnya tak bertahan lama pengikutnya cuma ada ketika Imam mazhabnya masih hidup, sesudah beliau meninggal dunia tak ada lagi yang melanjutkan mazhabnya. Karenanya sangatlah susah untuk kita menelusuri mazhab selain empat di atas.

Kewajiban bermazhab
Biasanya, manusia di dunia terdiri pada dua golongan, yakni pintar (alim) serta awam. Yang disebut dengan orang pintar (alim) dalam diskursus pemahaman bermazhab yaitu beberapa orang yang sudah mempunyai kekuatan menggali hukum dari Al Quran serta Hadis yang diberi nama juga sebagai Mujtahid. Sedang orang yang awam yaitu beberapa orang yg tidak mempunyai kekuatan karenanya dikatakan sebagai Muqallid. Kondisi mereka mengikuti beberapa imam Mujtahid diberi nama dengan taqlid.

Kewajiban pada tiap-tiap muslim yaitu mempercayai serta mengamalkan apa yang sudah di sampaikan Rasulullah dalam al-Qur'an serta Sunnah dengan cara benar. Untuk beberapa mujtahid, dengan kapabilitas yang mereka punyai, mereka bisa menggali hukum sendiri dari Al-Quran serta Hadis bahkan juga untuk mereka tak bisa mengikuti pendapat orang lain. Sedang untuk orang awam begitu berat untuk mereka untuk mengerti serta mengambil hukum dari Al Quran serta Hadis. Jadi bermazhab yaitu semata-mata untuk mempermudah mereka mengikuti ajaran agama dengan benar, karena mereka tak perlu lagi mencari tiap-tiap persoalan dari sumber aslinya yakni al-Qur'an, Hadist, Ijma' dan lain-lain, tetapi mereka cukup membaca ringkasan tata cara melaksanakan ibadah dari mazhab-mazhab itu. Dapat dipikirkan bagaimanakah sulitnya beragama untuk orang awam, apabila mesti mempelajari semua ajaran agamanya lewat al-Qur'an serta Hadist. Begitu beratnya beragama apabila kebanyakan orang mesti berijtihad. Serta banyak bidang yang menjadi kebutuhan manusia bakal tidak terurus bila seandainya tiap-tiap manusia berkewajiban untuk berijtihad, lantaran untuk memenuhi kriteria ijtihad itu pasti menggunakan waktu yang lama dalam mendalaminya.

Taqlid dalam perbandingan lain bisa kita ibaratkan dengan konsumsi makanan siap saji yang sudah di masak oleh ahlinya. Apabila kita mau memasaknya sendiri sudah pasti kita mesti terlebih dulu mempersiapkan beberapa bahan makanan itu serta mesti mempelajari beberapa cara memasaknya dan juga mesti memiliki pengalaman dalam memasak. Hal semacam ini sudah pasti memerlukan waktu bahkan juga terkadang hasil yang didapat tak memuaskan, tidak menjadi makanan yang lezat. Demikian pula dalam taqlid, sudah pasti ia mesti dulu kita pelajari serta menguasai kriteria ijtihad. Mungkin lantaran kapabilitas yang masih kurang, hukum yang dihasilkan juga adalah hukum yang fasid.

Ayat serta Hadits landasan Bertaqlid
Sesungguhnya banyak ayat-ayat Al Quran serta Hadis sebagai landasan kewajiban bertaqlid untuk manusia, diantaranya :

Surat Al Anbiya ayat 7

فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
“maka tanyakanlah terhadap beberapa orang yang berilmu bila anda tidak ada mengetahui” (Qs. Al-anbia : 7)
Memang ayat di atas asbabun nuzulnya untuk menanggapi prediksi orang-orang musyrik yang menyebutkan Allah tidak akan mengutus rasul dari jenis manusia. Tetapi dalam undang-undang usul fiqh sebagai pertimbangan hukum serta titik tekan dalam sebuah ayat adalah keumuman (universal) lafadz ayat.

Dengan hal tersebut ayat di atas sesungguhnya memiliki kandungan perintah pada orang yg tidak mempunyai pengetahuan agama supaya menanyakan serta mengikuti pendapat orang yang pintar di antara mereka. Dengan cara tekstual, ayat di atas diisi perintah menanyakan pada orang yang pandai. Tak ada kabar perintah taklid, maka tdk bisa di jadikan dalil kewajiban taklid. Tetapi pemahaman sekian kurang pas, karena apabila di perhatikan lebih cermat, perintah di atas termasuk juga perintah mutlak serta umum. Tidak diketemukan kekhususan perintah menanyakan perihal dalil atau yang lain. Sehingga ayat itu bias menjadi dalil kewajiban taklid.

Surat An Nisa ayat 59

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya : ’’hai orang-orang yang beriman! Turutilah Allah dan turutilah Rasul serta ulil amri dari kamu (An Nisa 59)

’’Ulil amri’’ dalam ayat di atas disimpulkan oleh beberapa mufassir dengan ‘’ulama-ulama’’. Di antara beberapa mufassir yang memiliki pendapat demikian yaitu ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Hasan, `Atha` dan lain-lain. Jadi dalam ayat ini diperintahkan pada kaum muslim untuk mengikut para ulama yang tidak lain disebut dengan taqlid.

Surat As sajadah ayat 24

 وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pamimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami saat mereka bersabar, serta mereka meyakini ayat-ayat kami” (Qs. As-sajadah : 24)

Abu As-su’ud berkomentar, subtansi ayat diatas menuturkan perihal beberapa imam yang memberi panduan pada umat perihal hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan hal tersebut wajib bagi umat untuk mengikuti panduan yang mereka tunjukkan.

Hadis riwayat Turmuzi dll


اِقْتَدُوا بِاَللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ "  أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ

“Ikutilah dua orang setelah saya, yakni Abu Bakar serta Umar“ (H. R. Turmuzi, Imam Ahmad, Ibnu Majah serta Ibnu Hibban)

Dalam hadis ini terang kita diperintah kita mengikuti dua Ulama yang juga shahabat Nabi yakni Abu bakar serta Umar Rda. Ini merupakan perintah untuk Taqlid.

Hadis riwayat Baihaqi

أصحابي كا لنجوم باءيهم اقبديتم اهتديتم (رواه البيهقي
“Sahabatku seperti bintang, siapapun yang anda ikuti jadi anda sudah memperoleh hidayat” (Kisah Imam Baihaqi).

Ini juga dalil yang meyuruh kita (yang bukan mujtahid) untuk mengikuti sahabat-sahabat nabi, mengikuti mereka itulah yang di katakan dengan TAQLID.


Semua hadits di atas menggambarkan bahwa beberapa sahabat serta ulama-ulama sesudah sahabat, adalah pelita untuk umat manusia, hingga Rasulullah menjadikan beberapa ulama juga sebagai pewaris para Anbiya’ dalam memberi arahan terhadap ummat. Mengikuti mujtahid pada hakikat yaitu mengikuti Allah serta RasulNya, dan lagi beberapa ulama sudah setuju bahwa ijtihad mereka bersumber pada Kitab Allah serta Sunnah Rasul dikarenakan silsilahnya (ikatan) dengan Rasulullah tak diragukan, jadi mengikuti mujtahid juga disebut mengikuti Rasulullah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hukum Bermazhab Dalam Islam

0 komentar:

Post a Comment